Kamu Bukan Lagi Milikku, Tapi Masih Jadi Ceritaku

Kamu Bukan Lagi Milikku, Tapi Masih Jadi Ceritaku


Katanya, waktu bisa menyembuhkan segalanya. Tapi kenapa sampai hari ini, setiap kali mendengar namamu, masih ada denyut kecil yang terasa di dada?
Aku sudah beranjak jauh, sudah tertawa dengan orang lain, tapi entah kenapa… kamu masih ada—bukan di hadapanku, tapi di cerita yang tak mau selesai.

Lucunya, cinta memang nggak selalu soal siapa yang bertahan paling lama. Kadang, cinta cuma soal siapa yang paling dulu membuatmu merasa hidup. Dan kamu, tanpa sadar, pernah jadi alasan aku ingin jadi versi terbaik dari diriku.

Tentang Kita yang Pernah Ada


Dulu, kita pernah jadi dua orang yang nggak bisa lepas. Segalanya terasa ringan, seperti dunia sedang memihak. Aku masih ingat bagaimana kamu tertawa—bukan tawa paling indah di dunia, tapi yang paling aku hafal.

Kita nggak sempurna, tapi waktu itu rasanya cukup. Kamu dengan segala kekonyolanmu, aku dengan segala kebodohanku mencintai terlalu dalam. Dan ketika semuanya harus selesai, aku nggak tahu bagaimana caranya berhenti.

Ternyata kehilangan bukan cuma soal berpisah, tapi juga tentang menerima bahwa beberapa orang cuma datang untuk mengajarkan rasa, bukan untuk tinggal selamanya.

Kamu Pergi, Tapi Namamu Tertinggal


Setelah kamu pergi, aku coba segalanya. Menghapus foto, memblokir kontak, bahkan pura-pura bahagia di depan orang lain. Tapi setiap kali malam datang, ada saja sesuatu yang bikin aku inget.
Entah itu lagu, aroma hujan, atau kopi hitam yang kamu suka.

Cinta memang begitu. Dia nggak selalu butuh wujud untuk tetap hidup. Kadang cuma butuh kenangan kecil yang tak sengaja menempel di ingatan.
Dan kamu, entah kenapa, selalu jadi kenangan yang paling keras kepala.

Aku pernah marah pada waktu karena nggak berhasil menghapusmu. Tapi kemudian aku sadar, mungkin kamu memang ditakdirkan untuk tinggal—bukan di hidupku, tapi di ceritaku.

Tentang Move On yang Nggak Sesederhana Katanya


Orang-orang bilang, “Udah, move on aja.
Seolah melupakan itu cuma soal mengganti nama di chat list atau punya pasangan baru. Padahal, yang paling susah bukan melupakan orangnya, tapi melupakan rasanya.

Kamu bukan lagi milikku, tapi rasa nyaman yang dulu kamu kasih, masih nyangkut di hati.
Dan setiap kali aku mencoba jatuh cinta lagi, aku selalu bandingkan mereka denganmu. Bukan karena mereka kurang, tapi karena dulu kamu terlalu berarti.

Lucunya, semakin aku berusaha melupakan, semakin aku sadar: melupakan bukan berarti menghapus. Kadang, melupakan cuma berarti berhenti berharap pada yang sudah pergi.

Waktu Mengubah Segalanya, Tapi Tidak Sepenuhnya


Sekarang, setelah sekian lama, aku sudah bisa bicara tentangmu tanpa getir. Sudah bisa tersenyum ketika mengingat masa lalu kita tanpa meneteskan air mata.
Tapi tetap saja, ada bagian kecil dalam hati yang masih menghangat tiap kali namamu disebut.

Mungkin kamu juga begitu—atau mungkin tidak.
Mungkin bagimu aku cuma bab kecil dalam hidupmu, sementara bagiku, kamu adalah seluruh halaman pertama yang membuatku mengerti apa itu cinta.

Dan aku nggak menyesal pernah mencintaimu. Karena darimu aku belajar banyak hal—bahwa cinta nggak selalu tentang memiliki, tapi juga tentang melepaskan dengan tenang.

Kamu Tak Lagi Ada, Tapi Masih Kuingat dengan Baik


Ada satu waktu, aku ketemu seseorang yang mirip kamu. Gaya bicaranya, caranya menatap, bahkan senyum yang mirip banget. Tapi meski semua terasa sama, hatiku tetap bilang: itu bukan kamu.
Dan saat itu aku sadar, aku nggak sedang mencari pengganti, aku cuma sedang rindu yang dulu.

Sekarang aku paham, cinta pertama itu bukan harus lenyap. Ia cuma berubah bentuk.
Dari rasa yang dulu membakar jadi kenangan yang menenangkan. Dari seseorang yang dulu kupegang erat, jadi doa yang kuucap diam-diam setiap malam.

Kamu bukan lagi milikku, tapi aku masih menjagamu dengan cara yang paling sederhana: mengingatmu dengan tenang.

Berdamai dengan Masa Lalu


Butuh waktu lama untuk akhirnya berdamai. Dulu aku pikir, kalau aku benar-benar mencintaimu, aku nggak akan bisa mencintai orang lain.
Ternyata salah.
Cinta itu tumbuh dengan cara berbeda setiap kali datang. Dan meski kamu adalah awal dari segalanya, bukan berarti kamu harus jadi akhir dari semuanya.

Aku belajar bahwa setiap orang yang datang, punya peran masing-masing.
Kamu datang untuk membuatku mengenal cinta.
Yang lain datang untuk mengajarkanku tentang bertahan, tentang sabar, tentang menerima.

Dan mungkin, suatu hari nanti, seseorang akan datang untuk tinggal—bukan menggantikan kamu, tapi melanjutkan cerita yang pernah kamu mulai.

Akhir yang Tak Pernah Benar-Benar Berakhir


Sekarang, aku nggak lagi menunggumu. Aku juga nggak berharap kamu kembali. Aku cuma ingin berterima kasih—karena pernah datang, pernah membuat hidupku berwarna, meski akhirnya kamu juga yang menghapus warnanya perlahan.

Lucunya, aku nggak ingin lupa. Karena melupakan kamu sama saja melupakan versi diriku yang dulu percaya pada cinta dengan polosnya.
Dan biar bagaimanapun, kamu tetap bagian dari aku—bukan sebagai luka, tapi sebagai cerita.

Jadi, kalau nanti kamu baca tulisan ini entah di mana pun kamu berada, semoga kamu tahu:
Aku nggak lagi mencintaimu seperti dulu, tapi aku tetap mendoakanmu dengan cara yang diam-diam.

Kamu bukan lagi milikku, tapi kamu akan selalu jadi ceritaku.
Ceritaku yang tak sempurna, tapi nyata.

Insert code: <i rel="code">Put code here</i> or <i rel="pre">Put code here</i>
Insert image: <i rel="image">Put Url/Link here</i>
Insert title: <b rel="h3">Your title.</b>
Insert blockquote: <b rel="quote">Put text here</b>
Bold font: <b>Put text here</b>
Italics: <i>Put text here</i>

0 Komentar

Type above and press Enter to search.