Ada Kamu di Setiap Hujan yang Turun Diam-Diam

Ada Kamu di Setiap Hujan yang Turun Diam-Diam


Entah sejak kapan, setiap hujan yang turun membawa wajahmu bersamanya.
Suara rintiknya seperti menyebut namamu pelan, seperti lagu lama yang tak pernah selesai dinyanyikan. Aku bisa pura-pura lupa banyak hal—tapi tidak dengan hujan, dan tidak dengan kamu.

Hujan itu aneh, ya. Ia datang tanpa janji, tapi selalu berhasil menumbuhkan kenangan.
Dan di setiap tetesnya, aku seperti kembali ke masa di mana kita masih sering berteduh di bawah payung yang sama, berbagi tawa, bahkan diam pun terasa cukup.

Tentang Rindu yang Tak Pernah Padam


Rindu itu kadang seperti gerimis kecil—tak deras, tapi lama.
Ia tidak membuatmu basah kuyup, tapi cukup untuk membuatmu menggigil.
Aku pernah mencoba menepisnya, menyibukkan diri, menulis banyak hal agar pikiranku tak lagi berputar ke arahmu. Tapi percuma. Karena di sela-sela kalimat yang kutulis, ada namamu yang selalu menyelinap.

Aku sadar, beberapa hal memang tidak harus dimiliki untuk bisa dikenang.
Kamu, misalnya.
Kita mungkin sudah berjalan di jalan yang berbeda, tapi entah kenapa, langkahku masih sering berhenti di tempat yang sama—tempat kita dulu sering menunggu hujan reda.

Waktu Tidak Selalu Menyembuhkan, Kadang Ia Hanya Membiasakan


Kata orang, waktu akan menyembuhkan segalanya. Tapi aku rasa tidak selalu begitu.
Waktu hanya mengajarkan bagaimana cara hidup dengan luka, bukan menyembuhkannya.
Ia membuat kita terbiasa menatap kenangan tanpa terlalu banyak bergetar, terbiasa mendengar nama seseorang tanpa harus menunduk terlalu lama.

Aku tidak lagi menangis saat hujan turun, tapi hatiku masih berdebar dengan irama yang sama.
Dan itu cukup untuk tahu: kamu masih tinggal di suatu sudut kecil di dalam diriku.
Tidak lagi menyakitkan, tapi juga tidak sepenuhnya hilang.

Cinta yang Pernah, Tapi Masih Terasa


Lucu, ya. Bagaimana seseorang bisa pergi, tapi tetap tinggal.
Kamu pergi tanpa pamit, tapi bayanganmu masih betah di pikiranku.
Kamu bukan lagi bagian dari hari-hariku, tapi entah mengapa, aku masih berharap hujan datang agar aku bisa "bertemu" lagi denganmu—meski hanya lewat kenangan.

Kadang aku berpikir, mungkin memang begini cara semesta bekerja.
Beberapa orang hanya ditakdirkan untuk datang, mengubah arah hidup kita, lalu pergi sebelum kita sempat berterima kasih.
Dan kita hanya bisa mengenangnya lewat hal-hal sederhana: aroma tanah basah, secangkir kopi hangat, atau rinai hujan di sore hari.

Pelajaran dari Hujan dan Kamu


Hujan mengajarkanku banyak hal—termasuk tentang kehilangan.
Bahwa tidak semua yang datang harus dimiliki, dan tidak semua yang pergi harus dilupakan.
Bahwa cinta bisa tetap ada, meski tidak lagi bersama.
Bahwa beberapa kenangan, tak peduli seberapa lama waktu berlalu, akan tetap hidup diam-diam di antara tetes-tetes hujan.

Mungkin kamu tidak tahu, tapi setiap kali hujan turun, aku masih menatap langit dengan rasa yang sama—bukan karena ingin kembali, tapi karena ingin berterima kasih.
Kamu pernah datang di waktu yang tepat, memberi hangat di tengah musim yang dingin.
Dan meski akhirnya kamu pergi, kenangan tentangmu tidak pernah benar-benar hilang.

Mencoba Berdamai dengan Kenangan


Berdamai bukan berarti melupakan.
Berdamai adalah menerima bahwa ada cerita yang tidak bisa diulang, tapi tetap pantas disyukuri.
Bahwa tidak semua cinta harus berakhir dengan memiliki, dan tidak semua kehilangan berarti kekalahan.
Kadang, cinta yang tidak sampai justru paling tulus, karena ia tak menuntut apa-apa selain kebahagiaan orang yang pernah dicintai.

Kini, aku belajar mencintai tanpa berharap, mengenang tanpa sesak, dan memandang hujan tanpa air mata.
Karena mungkin, yang tersisa dari kita bukan lagi "kita", tapi "aku" yang lebih kuat setelah pernah mencintaimu.

Kenangan yang Tak Pernah Benar-Benar Pergi


Setiap kali hujan turun diam-diam, aku masih mendengar suaramu di antara gemericiknya.
Masih terasa hangat tawa kita di udara yang dingin.
Dan meski kini aku berjalan sendiri, ada sesuatu yang tetap hidup di dalam hati—sebuah rasa yang tidak lagi menyakitkan, tapi justru menenangkan.

Kamu adalah bagian dari hujan, dan hujan adalah bagian dari ceritaku.
Kamu datang membawa warna, lalu pergi meninggalkan pelangi yang tak pernah benar-benar pudar.
Mungkin begitu cara semesta bekerja—menyembunyikan kenangan di balik rintik hujan, agar tak benar-benar hilang, tapi juga tak terlalu melukai.

Akhir yang Tidak Benar-Benar Berakhir


Hujan reda. Langit kembali biru.
Tapi entah kenapa, aku masih bisa merasakan kehadiranmu di antara udara yang lembap.
Mungkin karena cinta memang begitu—tidak selalu harus tampak, tapi tetap bisa terasa.
Seperti aroma tanah setelah hujan, yang lembut, samar, tapi menenangkan.

Kita tidak lagi bersama, tapi bukan berarti cerita kita selesai.
Ia hanya berubah bentuk—dari kenyataan menjadi kenangan, dari kata "kita" menjadi "pernah".
Dan aku tidak menyesal pernah mengenalmu, karena kamu adalah salah satu hal paling indah yang pernah mampir dalam hidupku.

Dan pada akhirnya, setiap kali hujan turun diam-diam, aku tahu:
ada kamu di sana—bukan lagi sebagai luka, tapi sebagai bagian dari perjalanan yang mengajarkanku cara mencintai tanpa harus memiliki.

Insert code: <i rel="code">Put code here</i> or <i rel="pre">Put code here</i>
Insert image: <i rel="image">Put Url/Link here</i>
Insert title: <b rel="h3">Your title.</b>
Insert blockquote: <b rel="quote">Put text here</b>
Bold font: <b>Put text here</b>
Italics: <i>Put text here</i>

0 Komentar

Type above and press Enter to search.